Selasa, 24 Januari 2012

Misteri Kematian Teman Sekelasku 1

Kisah ini bermula ketika ada teman sekelasku yang meninggal dengan sangat tidak wajar. dikabarkan bahwa dia mati bunuh diri dengan cara terjun bebas dari jembatan yang dibawahnya ada jalur kereta api. saat ia melompat ke bawah ia menabrak sebuah kereta api yang melaju dengan sangat cepat. tubuhnya hancur berantakan organ dalamnya saja berceceran dimana-mana. untuk mengumpulkannya saja harus menggunakan mangkuk dan sumpit. uuh.. sungguh mengerikan.
"loe udah denger belom tentang kabarnya si dinda?" ujar Fero membuka obrolan. "si dinda temen sekelas loe itu?" tanya Metta. "iyalah.. dinda mana lagi" ujar fero sewot. "iya gue udah denger.. anak-anak 1 sekolahan juga lagi pada ngomongin dia kali" ujar Metta sambil meminum segelas Lemontea-nya. "emang bener ya dia bunuh diri?" tanya Widie sambil melepas headset ipod-nya. "iya kabarnya sih gitu, tapi gue bingung kenapa dia bunuh diri ya padahal gue liat kemarin dia baik-baik aja. prestasinya di sekolah juga bagus kenapa dia bunuh diri?" jawabku sambil bertanya kembali dengan ekspresi wajah bingung. "yaelah.. loe kaya ga tau aja sih Fie, si Dinda kan selalu jadi bahan olok-olokan siswa-siswi disini. bisa aja kan di luar keliatannya baik-baik aja tapi di dalemnya dia udah stres akut" jawab Juwita dengan santai.
"pagi-pagi udah pada ngerumpi nih!" ucap Alwin sambil mengagetkan kami. "astaga, kamu tuh bikin orang jantungan aja pagi-pagi. bisa ga sih datengnya biasa aja ga usah pake ngagetin gitu?" ujar Fero dongkol. "kalo biasa aja ga surprise donk sayang" ujar Alwin manja. "oh gitu.. jadi loe mau gue mati jantungan nih ceritanya?" tanya Fero gemas. "ya jangan donk kan belum nikah" jawab Alwin polos.
"enak aja loe.. mau ngempanin ade gue pake apaan udah ngomongin nikah-nikah segala" teriak kak Bobby sambil menghampiri kami. ia langsung menyenggol kepala Alwin dengan sikunya. kami hanya tertawa melihatnya. "emang bener ya dek si dinda mati bunuh diri?" tanya kak Lee kepadaku. "iya kak katanya sih gitu" jawabku. "duh gue jadi takut nih.. gue kan pernah ngejailin dia. jangan sampe deh arwahnya gentayangan" ujar Lharaz ketakutan. "huss,, kamu ngomong apa sih beb. ga mungkin lah orang yang udah mati arwahnya bisa kemana-mana. ngejawab pertanyaan malaikat kubur aja udah kesusahan". ujar Agoy menjelaskan sambil merangkul Lharaz kekasihnya. "duh.. pagi-pagi pada ngmongin beginian sih bikin tegang aja". ujar Kiki menghampiri kami. "mending kita balik ke kelas aja yuk bentar lagi juga bel masuk bunyi" ucap Metta mencairkan suasana.
***

"Argghhhhh.... !!!" terdengar suara teriakan seorang perempuan. aku langsung berlari menghampiri asal si pemilik suara tersebut. teman-teman yang lain juga mulai berlari dan mnghampirinya. "ada apa Wid?" tanyaku pada Widie. "itu..itu.." jawabnya menunjuk sebuah sepatu yang sangat kotor dan usang. "itu sepatunya Dinda" timpalnya. "loe yakin?" tanyaku sambil mengamati sepatu yang tadi di lempar oleh Widie. "iya tuh itu sepatunya si Dinda Fie, gue hapal bgt soalnya gue sering liat Dinda make sepatu itu. ujar Nadya menambahkan. aku bingung kenapa bisa sepatu ini masuk ke dalam lokernya Widie. aku mendekat dan menyentuh sepatu yang kotor itu. "tadi pagi tuh gue ngecek loker ga ada apa-apa, kenapa tiba-tiba bisa ada sepatu Dinda di dalem?" tanya Widie Heran. "mungkin ada yang iseng kali Wid" jawabku menyimpulkan sesuatu. "ga mungkin lah Shofie.. kan kunci loker sama gue" ujar Widie menjelaskan.
"ada apa ini?"tanya Pak Derry menghampiri kami. "itu Pak di dalem loker saya tau tau ada sepatunya Dinda". jawab Widie sambil menunjuk sepatu yang aku pegang. "kamu ada-ada aja mana mungkin sepatu Dinda bisa ada disitu Dinda kan sudah meninggal" ujar Pak derry sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "sudah sudah kalian lanjutkan saja aktifitas kalian, mungkin saja itu kerjaan orang iseng" timpal Pak Derry. Kamipun menurut aku langsung mengajak Widie kembali ke kelas. sesampainya di kelas Widie kembali menceritakan kejadian itu kepadaku, Fero, Juwita dan Metta. ia yakin yang memasukan sepatu itu ke lokernya adalah arwahnya Dinda, aku dan teman-teman hanya tertawa mendengarnya. tidak mungkin orang yang sudah meninggal melakukan itu. pasti ada seseorang yang iseng melakukan itu untuk menakut-nakuti kami. Mataku tiba-tiba langsung tertuju pada sosok Pak Derry guru biologi di sekolahku. ya siapa yang tidak mengenal Pak Derry dia tampan, keren, dan juga sangat menarik banyak murid-murid perempuan yang suka kepadanya. "loe ngeliatin apaan sih Fie?" tanya Fero sambil celingukan. "itu tadi Pak Derry lewat" jawabku sambil cengengesan. "mana? mana?" tanya Juwita antusias. "tadi.. sekarang mah udah ga ada" jawabku di sertai dengan tawa Fero, Widie dan Metta.
***

"emang boleh ya cuci foto disini?"tanyaku sambil membuka pintu dalam ruang lab biologi. "ya boleh lah tadi aku udah minta ijin kok sama Pak Derry" jawab Kiki sambil mengeluarkan negatif film dari dalam kamera-nya. "oh yaudah.. cepet cuci biar ga kelamaan nih aku nunggunya" ujarku. "iya tunggu bentar ya" ucapnya sambil meninggalkan ku sendirian di ruang biologi.
"udah?" tanya ku sambil melepaskan ipodku dari telingaku. "udah kok tunggu aja sebentar lagi juga selesai" jawabnya sambil mengacak rambutku yang memang sudah berantakan. Kami pun mengobrol sambil menunggu foto-foto yang di cuci oleh Kiki selesai. Widie dan Budi menyusul kami disini akhirnya kami pun mengobrol bersama mereka berdua.
30 menit berlalu..
"gue ngambil foto-fotonya dulu ya" ujar Kiki memasuki ruangan dalam lab biologi. "gue juga ikut Ki.. gue penasaran sama foto-foto yang tadi loe potret" ujar Budi menyusul Kiki. "kita juga ikut yuk Fie" ujar Widie.
"ih..apaan nih?" tanya Kiki memperlihatkan salah satu foto yang di potretnya. "apaan?" tanyaku dan Widie penasaran. di dalam foto itu terlihat wajah teman-teman sekelasku yang sedang tersenyum dan di foto itu terukir huruf D yang sangat besar dan berwarna merah. kontan saja kami berempat langsung ketakutan. "D itu maksudnya Dinda ya?" tanya Widie ketakutan. "kalo gue sih mikirnya lain Wid" jawabku. "apa?" tanya Budi, Widie dan Kiki bersamaan. " D itu jangan-jangan Death (mati)" jawabku menyimpulkan. "jadi maksud loe Dinda mau kita semua mati gitu?" tanya Budi dengan ekspresi tidak karuan. belum saja rasa kaget kami hilang kami sudah di kagetkan dengan hal yang lebih membuat kami tercengang. sebuah keran wastafle tiba-tiba terbuka dan bukan air yang keluar dari keran itu melainkan darah. kami berempat langsung menjerit dan berhamburan keluar lab

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar