Rabu, 25 Januari 2012

Misteri Kematian Teman Sekelasku 2

aku tak bisa tidur dengan nyenyak malam ini, aku masih terus terbayang-bayang kejadian tadi siang. kami berempat berlari berhamburan keluar lab aku tak tau bagaimana nasib Widie dan Budi karna aku dan Kiki berlari kearah yang berlawanan dengan mereka berdua. ku tutup kembali wajahku dengan bantal berharap aku bisa segera terlelap tetapi tetap saja nihil. aku bangkit dari tempat tidurku, ku raih handphone blackberry-ku yang ku teletakkan di dekat lampu meja kamarku. "uuh.. tak ada kabar dari Kiki. mm.. mungkin dia sudah tidur" gumamku pelan. aku bangkit dari tempat tidurku menuju ruang tengah. kulihat kak Lee masih menonton tv disana. "kok belum tidur dek?" tanya kak Lee sambil mengganti chanel tv. "ga bisa tidur kak" jawabku sambil berjalan menghampirinya. "kok tumben?" tanyanya lagi."tadi siang aku ngalemin kejadian aneh" jawabku sambil duduk disampingnya dan memakan camilan milik kak Lee. "ngalemin apaan?" tanyanya penasaran. akupun menceritakan kejadian tadi siang yang aku alami bersama Kiki, Budi dan Widie secara detail kepada kak Lee.
***

"oy Nic.. gue laper nih! sediain makanan kek atau apa gitu" ujar Iras dengan wajah memelas. "loe cari aja tuh di dapur kayanya di dalem kulkas ada makanan deh" ujar Nicky sambil memetik gitarnya. Iraspun bangkit dan mulai menuju dapur. sesampainya di dapur ia langsung membuka pintu kulkas. betapa senangnya dia melihat banyak makanan yang menganggur di dalam kulkas.
"Huhuhuhu... Toloongg..!!". terdengar suara rintihan perempuan meminta tolong. "suara siapa tuh?" gumam Iras pelan. Iras mulai mencari asal suara itu. ternyata asal suara tersebut dari kamar bi Ijah pembantunya Nicky. Iraspun menghentikan langkah kakinya dan membuka pintu kamar itu pelan-pelan. "bi..bibik kenapa?" tanya Iras khawatir. ia melihat sesosok perempuan yang sedang menangis duduk dilantai membelakanginya. "apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi. namun perempuan itu tetap saja merintih tanpa menjawab pertanyaan Iras. Iras mulai melangkah mendekatinya dan memperhatikan sosok perempuan itu. semakin diperhatikan dan diamati sosok itu tak mirip dengan sosok bi Ijah yang ia kenal.
"woyy! nagapain loe disini? katanya laper?" tanya Nicky mengagetkan Iras. "ya Allah Nic.. loe ngagetin gue aja" jawab Iras sambil mengelus dadanya. "ya lagian loe ngapain disini? kan dapurnya ada disana" tanya Nicky lagi sambil menunjuk ke arah dapur. "iya gue tau dapur ada disana" jawab Iras. "eh Nic.. itu siapa?" tanya Iras sambil menunjuk ke dalam kamar. saat Iras menengok kembali ke dalam kamar disana sudah tidak ada siapa-siapa. "mana? ga ada siapa-siapa. loe ngigo ya Ras? gue tau loe laper tapi ga sampe bikin stres gitu juga kali" ujar Nicky sambil menepuk pundak Iras. "enggak.. tadi gue ngeliat ada cewek nangis disitu" ujar Iras ngotot. "iya terus mana? kamar ini kan kosong. bi Ijah lagi pulang kampung nengokin anaknya yang lagi sakit" ujar Nicky menjelaskan sambil meyakinkan Iras. Iras masih terlihat bingung ia hanya melongo waktu Nicky bilang 'bi Ijah lagi pulang kampung'. "lantas yang tadi gue liat siapa?" pikirnya dalam hati. "woy Ras! loe kok malah bengong sih? culun tau ga loe" ledek Nicky sambil tertawa. " gue balik dulu ya Nic, bye!" ucapnya pamit. Nicky hanya bingung melihat Iras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "tuh anak kenapa sih? aneh bgt" ujar Nicky kebingungan.
Iras yakin bahwa yang ia liat tadi itu benar-benar nyata bukan halusinasi belaka. sosok perempuan itu bahkan suaranya sangat nyata. kemudian Iras teringat sesuatu, ia pernah mendengar Dinda menangis di gudang persis seperti itu dan sosok perempuan itu kalau di perhatikan memang mirip Dinda. "jangan-jangan yang gue liat tadi itu dia" tebak Iras. "ah gue mikir apa sih" ujarnya sambil menutup wajahnya dengan selimut.
***

"Shofiee..!" teriak kak Lee dari luar kamarku. akupun bangun dari tidurku, dengan wajah masih setengah mengantuk aku menghampiri kak Lee yang berada di luar kamarku. "mm.. iya kak.. nih gue udah bangun" ucapku sambil bersusah payah menahan mataku yang masih terkantuk-kantuk. "mandi dulu gih sana.. kakak tunggu di ruang makan" ujarnya sambil mengelus rambutku yang berantakan. aku langsung berjalan ke kamar mandi yang terletak di dalam kamarku.
***

"woyy! cepetan! udah jam berapa nih!" teriak fero sambil berkali-kali membunyikan klakson mobilnya. "iya iya sabar napa" ujar kak Bobby sambil berlari ke arah fero. "loe mau kesekolah apa mau ke toilet kak?" tanya fero sambil memperhatikan kak Bobby. "ya kesekolah lah.. pake ditanya" jawab kak Bobby sewot. "emang kenapa sih?" tanyanya lagi dengan nada bingung. "tuh resleting celana loe belom dinaikin" jawabnya cekikikan sambil menunjuk celana kak Bobby. "astaga!!" ujarnya kaget sambil membalikkan badannya dan menaikan resleting celananya. "hehehe.. udah nih" ujarnya sambil cengengesan. Fero hanya menggelengkan kepalanya. "yuk let's go!".
***

Hari ini rasanya aku kurang bersemangat begitu juga dengan teman-temanku. setelah aku menceritakan kejadian kemarin di lab biologi bersama Widie, Budi dan Kiki suasana di sekolah menjadi sedikit agak tegang. awalnya Fero, Metta dan Juwita tidak percaya tetapi setelah mereka mendengarkan kesaksian dari siswa-siswi lain akhirnya mereka bertiga pun percaya. "gue juga mengalami kejadian aneh tadi pagi" ujar Nadya yang tiba-tiba berada di belakang kami. "kejadian apa Nad?" tanya Metta penasaran. "tadi pagi sehabis piket gue ke toilet buat naro kain pel, trus gue ngeliat ada siswi gitu mondar-mandir di dalem toilet pas gue samperin tau tau udah ga ada" jawab Nadya menceritakan pengalamannya. "loe liat ga wajahnya?" tanya juwita. "ya ga keliatan jelas lah.. orang lampunya aja mati" jawab Nadya sambil duduk di sebelahku. "duh.. lama-lama gue bisa ga betah nih sekolah disini" ujar Widie.
"gue juga kemarin ngalemin kejadian aneh" ujar Iras sambil menghampiri kami. "kejadian apa yank? kok kamu ga cerita sama aku?" tanya rahmadhani yang berjalan di sebelahnya. Iras langsung duduk di kursi kosong dekat Nadya begitu juga dengan kak Rahma, Nicky, Bobby, Lee, Agoy, Lharaz, Alwin, Kiki, Hendra dan Budi. "tapi gue ngaleminnya di rumah loe Nic" ujar Iras sambil melihat kearah Nicky. "rumah gue?" tanya Nicky bingung. "iya rumah loe, yang semalem itu. gue ngeliat ada cewek nangis sambil merintih-rintih gitu di kamarnya bi Ijah padahal loe bilang tuh kamar kosong soalnya bi Ijah lagi pulang kampung. iya kan?" jawab Iras menceritakan sambil bertanya kembali. "iya emang kosong. tapi loe beneran yakin sama yang loe liat itu Ras? bukan halusinasi loe aja tuh?" tanya Nicky memastikan. "sumpah mampus gue Nic.. gue ga salah liat. yang gue liat dan gue denger itu beneran nyata" jawab Iras dengan nada serius. kami semua langsung terdiam dan berpikir sejenak. kenapa Dinda meneror kami dengan cara menakut-nakuti kami seperti ini? sebenarnya apa yang dia inginkan? aku terus bertanya-tanya dalam hati.
"yaudah guys.. mending sekarang kita harus waspada soalnya ini bener-bener masalah yang serius dan di luar nalar logika juga" ujar Alwin memecah keheningan. "kayanya si Dinda mau ngasih tau kita sesuatu deh" ujar Hendra tiba-tiba. "ngasih tau apa Ndra?" tanya kak Bobby. "ya sesuatu.. soalnya ga mungkin dia menghantui kita tanpa sebab" jawabnya menerka-nerka. "bisa jadi dia dendam sama orang-orang yang sering ngejailin dia trus kita ikut-ikutan kena imbasnya" tebak Budi. "duh loe jangan nakutin gue donk Bud" ujar Lharaz sambil memeluk Agoy. "aduuh guys tenang dulu donk. kita kan belum tau sebabnya" ujar Hendra menenangkan. "trus soal foto yang kita liat kemarin gimana tuh?" tanya Widie mengingatkan kami soal foto yang di potret Kiki. "iya kak.. jelas-jelas ada huruf D nya dan pasti artinya Death (mati)" ujarku meneruskan perkataan Widie. "terus fotonya mana?" tanya Agoy. aku dan Widie langsung menengok ke arah Kiki. "yah.. fotonya gue tinggal waktu kita lari. mungkin.. udah di buang sama pengurus sekolah sewaktu dia bersih-bersih" jawab Kiki mengingat-ingat. "udah udah.. mending kita lupain masalah ini sejenak. dari pada bikin gila" ujar kak Lee sambil memegang kepalanya. "iya udah lupain aja gue juga pusing nih" ujar Fero. kami pun sepakat untuk melupakan masalah ini sejenak. tetapi kami tetap waspada dan tetap mencari tau sebenarnya apa motif Dinda menghantui kami dan juga kenapa dia bunuh diri. misteri ini semakin membingungkan.


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar