Kamis, 09 Februari 2012

Misteri Kematian Teman Sekelasku 4

Misteri kematian teman sekelasku pt 4

oleh Mela Varani pada 26 Januari 2012 pukul 13:13 ·
"kamu knp Fie?" tanya Kiki sambil memegang tanganku yang melingkar di tubuhnya.
"aku mau pulang" jawabku.
"kamu udah ngantuk ya? yaudah tahan ya" tanyanya sambil memegang tanganku lebih erat.
Aku hanya mengangguk. tak berapa lama kamipun melanjutkan perjalanan kembali setelah lampu lalu lintas menunjukan warna hijau begitu juga dengan kendaraan lain termasuk busway itu.

"yaudah kamu istirahat sana, aku pulang dulu ya Fie" ujarnya sambil mengacak rambutku.
"iya kamu hati hati ya Ki" ujarku.
"sampai ketemu besok ya di sekolah" ujarnya lagi sambil menjalankan motornya.
Aku langsung masuk kedalam. di dalam entah kenapa sangat sepi dan sunyi. aku mencoba memanggil nama kak Lee tetapi tidak ada sahutan.
"mungkin kakak belum sampai" gumamku pelan.
ketika aku memasuki ruang tengah tiba tiba pintu kamar mandi terbuka.
CREEAAAKKK...
Aku kaget sekali, perlahan lahan ku dekati pintu kamar mandi itu. tak berapa lama keluar sosok yang sangat familiar bagiku. dan sosok itu adalah kak Lee.
"kakak.. ngagetin aku aja" ujarku sambil menghela napas lega.
kak Lee hanya tersenyum tipis dan langsung berlalu ke dalam kamarnya. aku memperhatikan kak Lee sampai sosoknya tak terlihat lagi di dalam kamar. hei, sepertinya ada yang aneh dengan dia. kenapa aku merasa ada yang janggal. ah.. munkin cuma perasaanku saja ucapku dalam hati.
TINN.. TINN..
terdengar suara klakson mobil dari luar rumah. aku langsung bergegas keluar dan melihat siapa yang datang. tetapi sesampainya aku di luar aku langsung tercengang seolah olah tidak percaya dengan apa yang ku lihat.
"kakak?" ujarku tak percaya sambil mengucek mataku.
ku harap aku salah lihat tetapi sepertinya ini nyata.
"kamu kenapa dek? kok tegang gitu wajahnya?" tanya kak Lee memicingkan matanya.
"bukannya kakak udah sampe dari tadi ya?" tanyaku tak percaya.
"ih.. kamu ngigo ya? kan tadi kakak abis nganterin kak Novi pulang trus kakak ngobrol dulu sama bokapnya kak Novi. kan tadi kakak sms kamu abis kakak telpon ga diangkat-angkat"
Aku langsung meraih ponselku yang berada di saku jaketku. ternyata benar yang kak Lee katakan. di ponsel ku ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa sms masuk yang bertuliskan nama kak Lee. aku semakin tak mengerti.. kalau yang disini kak Lee berarti yang di dalam siapa?
ada satu hal yang baru ku sadari. sejak aku sampai di rumah aku tak melihat mobil kak Lee dan perasaan janggal yang ku rasakan mungkin ini. kenapa aku tak menyadarinya? mungkinkah karna terfokus memikirkan beberapa kejadian yang kualami saat perjalanan ke rumah membuatku jadi tak konsen sampai sampai aku tak menyadari bahwa kak Lee belum sampai di rumah saat aku pulang.
"halooo.." ujar kak Lee membuyarkan lamunanku.
"kakak tau kakak ganteng jadi ga usah di liatin begitu ahh" ujarnya lagi.
"ih apaan sih ge'er"
"ya lagian kamu ngapain ngeliatin kakak kaya gitu. horor tau diliatnya"
"ih kakak nyebelin" ujarku sambil memukul lengan kak Lee.
kak Lee hanya mencubit pipiku.
"yuk ah masuk udah malem nih" ujarnya sambil merangkulku masuk ke dalam.
sesampainya di dalam aku hanya merapat ke tubuh kak Lee sambil memperhatikan ke sekitar pelosok ruangan yang ada di rumahku.
"kamu masuk ke kamar duluan aja dek, kakak mau ke kamar mandi dulu" ujarnya sambil berjalan kearah kamar mandi yang terletak di pojok ruang tengah. tak berapa lama kak Lee keluar dari dalam kamar mandi.
"cepet amat kak?" tanyaku.
"kamu lagi haid ya dek?" tanya kak Lee kepadaku.
"hah? haid? enggak kok" ujarku sambil menggelengkan kepala.
"emang kenapa kak?" tanyaku kebingungan.
"itu di dalem kamar mandi ada banyak darah yang berceceran di lantai kakak pikir kamu lagi haid trus lupa di siram pas kamu selesai pipis" ujarnya.
"apa jangan-jangan kamu terluka?" tanyanya lagi sambil memeriksa tubuhku.
"aku ga kenapa-napa kok kak, kakak salah liat kali. aku kan belum ke kamar mandi itu sejak aku sampai di rumah tadi" ujarku menjelaskan.
"terus itu darah siapa?" tanya kak Lee menunjuk arah kamar mandi.
aku langsung melangkah ke dalam kamar mandi untuk melihat darah yang di katakan kak Lee. aku mencium aroma yang tidak sedap ketika aku memasuki kamar mandi, aroma berbau anyir yang sangat menusuk hidung. aku langsung menutup hidungku. ternyata benar yang di katakan kak Lee di dalam kamar mandi aku melihat banyak darah yang tercecer di lantai. aku langsung keluar menghampiri kak Lee aku tidak sanggup berada lama lama di dalam sana.
"emm.. kakak bener tapi sumpah deh itu bukan darah aku" ujarku sambil melepaskan tanganku dari wajahku.
"terus itu darah siapa?" tanya kak Lee sambil menggaruk kepalanya.
aku kembali teringat dengan sosok yang mirip kak Lee barusan.
BRAAAKK...
tiba tiba pintu kamar mandi tertutup dengan keras. aku dan kak Lee langsung kaget. jantungku terasa berdegup tak karuan aku sangat takut. kak Lee yang merasa penasaran langsung berjalan mendekati kamar mandi aku hanya mengikutinya dari belakang. ketika kak Lee membuka pintunya tidak ada siapa siapa di dalam dan anehnya darah yang tercecer di lantaipun menghilang. sontak saja aku dan kak Lee langsung merinding. karna kak Lee tidak ingin melihatku makin ketakutan ia langsung mengantarku ke kamar dan menemaniku sampai aku terlelap.
***

Pagi ini seperti biasanya aku berangkat ke sekolah bersama kakak kesayanganku kak Lee. yaiyalah kesayangan kan kakak ku cuma dia.
Ketika aku memasuki kelas teman-temanku sudah berada disana mereka tersenyum sambil melambai ke arahku.
"kenapa sih kok tumben rame bgt?" tanya ku yang baru sampai di kelas sambil memperhatikan teman-teman sekelasku yang lain.
"biasalah.. lagi ngomongin soal keanehan yang ada di sekolah" ujar Metta sambil membaca majalahnya bersama Juwita.
"keanehan apa lagi?" tanyaku penasaran.
"katanya di ruang biologi suka ada suara suara aneh gitu Fie, kaya suara teriakan orang padahal mah ga ada siapa siapa" jelas Fero.
"iya, mana besok gue sama Metta kebagian tugas ngebersihin lab biologi lagi. ah sial.." gerutu Juwita.
"untung gue enggak" sahut Widie.
"yaelah siang siang mah ga usah takut kali" ujar Fero.
"kata siapa siang? kan sehabis pulang sekolah lab mau di pake sama anak kelas 3 buat praktek" ujar Juwita.
"berarti agak sore donk Wi?" tanyaku.
"iyalah.." sahut Juwita dan Metta bersamaan.
KRIIINGGG...
bel berbunyi kami semua menduduki kursi masing-masing.
"pagi anak anak" sapa Pak Derry wali kelasku dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"pagi Pak.." ujar anak anak bersamaan.
***

"yuk Fie kita pulang" ajak Kiki kepadaku.
"tunggu sebentar ya Ki, aku mau nyamperin kak Lee dulu" ujarku sambil berlari ke arah kak Lee.
"kamu pulang sama Kiki dek?" tanya kak Lee.
"iya, kakak pulang sama kak Novi ya?" jawabku sambil bertanya kembali.
"hehe iya" jawabnya sambil tersenyum senang.
"sukses ya kak.. aku doain kakak balikan lagi sama kak Novi" ujarku di sertai dengan acungan jempol kak Lee.
"Ki gue titip Shofie ya" teriak kak Lee kepada Kiki.
Kiki hanya menganggukan kepala sambil mengacungkan jempolnya.
"yaudah aku pulang ya kak.."
aku langsung berlari menghampiri Kiki. dan untuk yang kesekian kalinya aku melihat orang misterius itu lagi. orang itu bersembunyi di balik pohon sambil mengintai ke dalam sekolah.
***

Sore ini di lab tampak Rahmadhani sedang menunggu Pak Derry di dalam lab. dia menunggu dengan manisnya, sesekali ia melirik ke arah jam tangannya.
"udah mau magrib nih.. kok Pak Derry belum dateng juga ya" ujarnya sambil melongok ke arah pintu.
BRAAKKK...
terdengar suara yang cukup keras dari arah belakangnya. Rahma yang kaget langsung menengok ke belakang. suara keras itu lagi lagi terdengar di sertai dengan bergeraknya meja dan kursi di sekitarnya. kursi dan meja itu bergeser seperti ada seseorang yang menyenggolnya dan di saat yang bersamaan ada sebuah benda yang terjatuh di lantai.
TING..TINGG..
Rahma langsung memungut benda itu. dan ternyata benda itu adalah sebuah jepit rambut yang pernah dipakai oleh Dinda. sontak saja Rahma langsung melempar jepitan itu dan berlari keluar sekolah.
BRUUKK..
"aww.. kamu kalau jalan liat liat dong sayang" ujar Iras bangkit dari jatuhnya dan segera membantu kekasihnya berdiri.
"ka..kamu ngapain disini?" tanya Rahma terbata.
"aku khawatir aja sama kamu, tadi nyokap kamu telpon aku katanya kamu belum pulang. yaudah aku langsung kesini nyariin kamu" ujarnya.
Rahma langsung memeluk Iras.
"aku takut yank"
"takut kenapa?" tanya Iras sambil menyentuk pipi Rahma.
"pokoknya aku mau pulang,aku takut" ujarnya pucat.
"iya iya yaudah yuk kita pulang" ajaknya sambil merangkul tubuh Rahma.
***

Malam ini aku tidur lebih awal karena mendadak kepalaku sakit dan tubuhku terasa sangat tidak enak. setelah meminum obat yang di berikan kak Lee aku langsung terlelap.
tiba tiba tubuhku terasa berat dan napasku terasa sesak.
"hiks..hiks.."
terdengar suara tangisan seseorang. aku langsung membuka mataku yang masih terasa berat. ketika aku membuka mata betapa kagetnya aku. aku melihat Dinda teman sekelasku sedang menindih tubuhku. ia menatap mataku dengan tajam dan aku juga menatap mata. aku melihat linangan air mata di pipinya.
"Shofiee.. Hiks..hiks.." ujarnya sambil menangis.
"Di..Dinda.." ujarku ketakutan.
"toloong.." ujarnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
aku sangat ketakutan. aku ingin berteriak tetapi kata kataku tertahan.
"toloong aku.." ujarnya lagi.
"to..tolong apa?" ucapku terbata-bata menahan takut.
"tanganku.."
"ta..tangan?"
"tanganku TAK ADAA !!" ujarnya sambil berteriak dan memperlihatkan tangannya yang terpotong.
aku sangat ketakutan. terlihat darah yang mengocor dengan derasnya dari lengan Dinda.
"to.. toloong.. kak Lee tolong.." ujarku bersusah payah mengeluarkan suaraku.
Dinda mulai berteriak dan disaat yang bersamaan aku juga berteriak sekeras-kerasnya.
"AAaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
"dek kamu kenapa dek?"
terdengar suara kak Lee di telingaku. aku langsung terbangun dari mimpi burukku dan langsung memeluk tubuh kakakku.
"Shofie takut kak.."
"ssstt.. tenang dek ada kakak. apa yang terjadi?" tanyanya sambil mendongakan wajahku dan menghapus air mataku yang mengalir di pipiku.
"aku takut.. aku takut.." ujarku berkali kali.
aku tak bisa memberitahu kak Lee tentang mimpiku. kejadian itu terlalu menakutkan untukku.
"udah udah.. kamu tenang" ujarnya menenangkanku.
kak Lee ngusap kepalaku dan menghapus keringat yang membanjiri tubuhku.
"aku tidur di kamar kakak ya.. aku ga mau tidur disini"
"iya iya yaudah kamu tidur di kamar kakak. besok kamu ga usah sekolah dulu ya badan kamu demam kayanya" ujarnya sambil menempelkan tangannya di dahiku.
kak Lee lalu membantuku berjalan dengan tubuh yang masih sempoyongan aku tak kuat untuk berjalan. lalu kak Lee menggendongku dan membawaku ke kamarnya.


Bersambung..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar