Kamis, 09 Februari 2012

Misteri Kematian Teman Sekelasku 5

Metta yang sedang tertidur dengan lelap di kamarnya merasa terganggu dengan suara radio yang tiba tiba menyala di kamarnya.

Tiba saat mengerti jerit suara hati
Yang letih meski mencoba
Melabuhkan rasa yang ada
Mohon tinggal sejenak
Lupakanlah waktu
Temani air mataku
Teteskan lara merajut asa
Menjalin mimpi
Endapkan sepi sepi

Mettapun terbangun dari tidurnya.
"siapa sih nih yang nyalain radio, kurang kerjaan bgt" ujarnya kesal sembari bangkit dari tempat tidurnya.
dengan jengkel Metta mematikan radio-nya dan mencabut kabel dari stop kontak. kemudian ia melanjutkan tidurnya, namun baru saja ia merebahkan tubuhnya tiba tiba radio itu kembali menyala dan memutarkan lagu yang sama. dengan perasaan takut ia menoleh ke arah radio dan melihat kabel yang tadi ia cabut sudah terpasang kembali. dengan wajah yang tak karuan ia memutuskan untuk keluar kamar menemui pacar dan kakaknya yang masih asyik mengobrol di ruang tamu. ketika Metta mau melangkahkan kakinya keluar radio itu mati lalu beberapa saat kemudian menyala lagi, tapi kali ini bukan lagu yang terdengar dari radio itu melainkan suara tangisan seorang perempuan. dengan sekuat tenaga Metta berlari keluar dan berteriak.
"AAaaaaaaa"
"loe kenapa ta?" tanya budi yang sedang mengobrol dengan nicky di ruang tamu.
"gue takut kak.. radio di kamar gue tau tau nyala sendiri" ujarnya ketakutan.
"mungkin kamu masang alarm kali lewat radio makanya nyala sendiri" ujar nicky menyimpulkan.
"ga nic.. tadi kabelnya tuh udah gue cabut masa tiba tiba nyala lagi trus ada suara orang nangisnya lagi"
"yaudah gini mending kita liat sama sama kedalem" ujar budi memberi saran.
"ga gue ga mau masuk ke dalem lagi" ujar Metta.
"loe ga usah takut kan ada gue sama nicky" ujar budi menenangkan.
"iya bener ta mending kita cek sama sama" ujar nicky sambil menarik tangan metta.
mereka bertiga masuk ke dalam kamar metta dan memastikan apa yang dikatakan metta barusan. tetapi sesampainya mereka disana mereka tak melihat keanehan yang dikatakan metta. radio yang berada di dalam kamar metta tampak biasa saja.
"mana ga ada apa apa" ujar budi sambil mendekati radio itu.
"sumpah kak tadi gue denger dan liat dengan mata kepala gue sendiri kalo radio itu tadi nyala" ujar metta seyakin-yakinnya.
"yaudahlah udah ga ada apa apa kan, kamu tidur lagi gih sana" ujar nicky.
"tapi temenin" ujar metta manja.
"ya ampun pacarku manja bgt sih" ujar nicky tersenyum sambil membelai rambut metta.
"gue ga ikut ikutan ah.. mending gue ke rumah widie nemenin dia tidur" ujar budi sambil tersenyum jahil.
"yang ada kepala loe di hantam pake panci sama bokapnya" ujar Metta.
nicky hanya tertawa melihat tingkah metta dan budi.
***

Semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. aku takut.. sangat takut, aku terus terbayang bayang mimpi buruk itu. aku baru bisa terlelap ketika hari menjelang subuh.
"kakak" ujarku sambil bangkit dari tidurku.
"eh.. kakak ngebangunin kamu ya?" 
"ga kok.."
"kakak berangkat ke sekolah dulu ya Fie hari ini kakak ada praktek jadi kemungkinan pulangnya sore. kamu gpp kan sendirian di rumah?"
"gpp kok" ucapku sambil tersenyum.
"yaudah kamu hati hati ya di rumah kalo ada apa apa kamu telpon kakak aja" ujarnya sambil mengusap kepalaku.
***

"loh Lee kok loe berangkat sendirian? Shofie mana?" tanya Kiki ketika Lee baru sampai di sekolah.
"Shofie sakit Ki" jawab Lee sembari menutup pintu mobilnya.
"Shofie sakit apa?" tanya Hendra.
"iya sakit apa Lee? perasaan kemarin dia baik baik aja" sambung Kiki.
"kecapen kayanya, trus semalem dia mimpi buruk gitu sampe badannya demam" ujar Lee menceritakan kejadian semalam.
"mimpi apaan?" tanya Kiki penasaran.
"ga tau gue, waktu di tanya dia malah nangis ketakutan gitu. oiya sehabis pulang sekolah loe bisa ga nemenin dia di rumah? soalnya gue khawatir takut dia kenapa-napa" pinta Lee dengan wajah memohon.
"pasti. Shofie kan cewek gue" ujar Kiki sambil tersenyum.
"oke thanks ya"
***

Iras, Agoy, Lee, Alwin, dan Bobby yang saat ini sedang menjalani praktek biologi untuk menambah nilai di raport tampak sangat serius memperhatikan Pak Derry berbicara. setelah Pak Derry selesai menjelaskan kemudian ia menyuruh anak anak untuk memulai prakteknya.
"aduuh gue geli nih" ujar Iras sambil memperhatikan beberapa ekor katak yang di jadikan eksperimen di depannya.
"ah loe Ras gede badan doang, sama kodok aja geli" cerocos Lee.
"eh lele.. kalo sama kodoknya sih gue ga geli tapi ngebedah isi perutnya itu yang bikin gue geli" ujar Iras.
"yaudah gini.. gue yang ngebedah loe yang nyatet ya Ras" ujar Alwin meluruskan.
"nah kalo itu gue setuju" ujar Iras senang.
"lagian kenapa prakteknya musti ngebedah kodok sih?" tanya Agoy.
"iya ya.. kan kasian kodoknya" ujar Bobby memperlihatkan ekspresi wajah sedihnya.
"yah ini lagi.. tampang roker hati melayu" ujar Lee yang langsung segera diamuk oleh Bobby.
dengan serius mereka mulai menjalankan prakteknya. suasana di lab tampak sangat tenang dan sepi semuanya sibuk mengerjakan tugasnya masing masing.
"eh guys gue pengen ke toilet dulu nih" ujar Lee sembari berjalan ke depan pintu.
"gue juga ikut Lee.. gue mau cuci tangan nih" ujar Agoy yang langsung menyusul Lee dari belakang.
Iras, Bobby dan Alwin melanjutkan tugas mereka. namun saat Alwin menolehkan pandangannya ke arah kedua temannya Agoy dan Lee, yang sedang berjalan ke luar ia melihat ada sesosok perempuan mengikuti Lee dari belakang.
"loe kenapa win?" tanya bobby membuyarkan pandangannya.
"ah ga kok.. ga ada apa apa bob" jawabnya dengan wajah tegang.
***

TING..TONG..
Kudengar seseorang membunyikan bel di luar. dengan susah payah aku bangun dari tempat tidur kak Lee, dengan tubuh masih terasa berat aku berjalan ke luar untuk membukakan pintu.
"haii.." sapa Kiki.
"haii.. kok kamu kesini?" tanyaku pada Kiki.
"tadi Lee nyuruh aku buat nemenin kamu soalnya dia khawatir sama kamu" jawabnya sembari menuntunku berjalan ke sofa yang terletak di ruang tamu.
"aku gpp kok.. cuma butuh banyak istirahat aja" ujarku sambil tersenyum.
"trus sekarang keadaan kamu gimana?" tanya Kiki.
"udah jauh lebih baik dari semalem" jawabku.
tiba tiba aku kembali teringat pada mimpiku yang semalam. aku penasaran apa maksud mimpiku semalam kenapa Dinda mencari tangannya? apa iya bahwa tangannya belum di temukan pada saat proses pemakamannya?
"kamu kenapa sayang?" tanya Kiki membuyarkan lamunanku.
"semalem aku mimpi aneh dan menyeramkan" jawabku sembari memandangi Kiki.
"mimpi apa?" tanyanya "kamu cerita dong sama aku"
"semalem aku mimpi ketemu Dinda, terus dia bilang tangannya ga ada"
Kiki terlihat shok dengan pernyataanku barusan.
"what? tangannya ga ada?" tanyanya kaget.
aku hanya mengangguk.
"terus apa hubungannya sama kamu?"
"aku juga ga tau tapi kayanya dia minta tolong deh sama aku buat nyariin tangannya"
Ku lihat ekspresi Kiki mulai tidak karuan.
"kamu ada ada aja, lagian emang kamu tau tangannya dimana?" tanyanya sambil mengerutkan dahinya.
"aku ga tau.. tapi justru itu aku pengen cari tau. kamu mau kan bantuin aku?"
"iya pasti, buat kamu apa sih yang enggak" ucapnya sambil tersenyum sangat manis "emang kamu mau aku bantu apa?"
"emm.. anterin aku ke rumahnya Dinda"
"mau ngapain kesana?"
"aku mau nemuin Ibunya"
"yaudah aku temenin"
Aku langsung beranjak ke kamarku untuk ganti baju. setelah itu kami berdua bergegas pergi ke rumah Dinda, entahlah aku merasa ingin pergi kesana dan menemui Ibunya. tapi saat aku baru setengah jalan menuju rumahnya aku melihat Ibunya Dinda sedang duduk termenung di taman. akupun memberitahu Kiki dan menyuruhnya untuk menghampiri beliau di taman.
"assalamu'alaikum tante" ujarku kepada Ibunya Dinda.
"wa'alaikum salam.. eh Shofie" ujarnya ramah.
aku dan Kiki langsung menyalami tangan beliau.
"tante lagi ngapain disini?" tanyaku sembari duduk di samping beliau.
"tante masih kepikiran Dinda Fie, tante masih ga habis pikir kenapa dia bisa meninggal"
"loh bukannya Dinda meninggal karna bunuh diri ya tante?" tanya Kiki.
"kalau menurut polisi sih begitu Ki tapi tante ngerasa ragu aja, soalnya sebelum kejadian itu Dinda sempat pamit sama tante untuk mengambil bukunya yang ketinggalan di sekolah dan dari wajahnya seperti tidak ada tanda tanda orang mau bunuh diri" ujar beliau menceritakan "apa menurut kalian dugaan itu masuk akal?" tanya beliau.
"emm.. ga sih tante" jawaku dan Kiki bersamaan.
"aku juga meragukan hal itu, aku merasa prestasi Dinda di sekolah bagus dan sehari hari ia tampak baik baik aja" ujarku menambahkan.
"karna itu tante kepikiran terus dengan Dinda, setiap malam tante merasa dia masih ada di sekitar tante bahkan tak jarang tante mendengar suara tangisannya. sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu"
Aku dan Kiki tertegun mendengar ucapan beliau barusan. aku kembali teringat dengan Dinda sewaktu disekolah, ia tampak selalu bersemangat jika sedang belajar. namun di sekolah ia selalu jadi bahan olok-olokan murid murid satu sekolahan. semua orang mengira dia aneh karna dia begitu pendiam dan dia juga sangat suka membaca buku sains yang menurut mereka tidak keren dan merupakan bacaan yang sangat berat. tapi menurutku Dinda adalah teman yang baik sangat baik meskipun banyak orang termasuk teman temanku yang membencinya dan menyebutnya aneh.
aku ingat saat di kelas widie, juwita, dan Metta pernah mencemoohkannya,Dinda tampak diam saja sambil memperhatikan buku bacaannya tapi yang aku lihat dia sedang menahan air mata yang hampir menetes di pipinya. aku sangat sedih saat itu namun aku tak bisa berbuat apa apa.
"yaudah kita pulang yuk Fie" ajak Kiki kepadaku.
sepertinya dia tau aku sedang sedih memikirkan Dinda.
"tante kami berdua pamit dulu ya" Pamit Kiki "tante tenang aja suatu saat masalah ini pasti terungkap"
"iya terima kasih ya Kiki Shofie" ucap beliau sambil tersenyum "Dinda pasti senang memiliki teman-teman yang baik seperti kalian berdua" ujarnya kembali dengan wajah sendu.
Aku dan Kikipun pamit pulang.
sepanjang perjalanan aku hanya diam dan Kikipun tak banyak berkomentar sepertinya ia sudah tau apa yang sedang aku rasakan.
***

"akhirnya selesai juga ya" ujar Lee sembari merenggangkan otot tubuhnya.
"udah deh.. bye bye mr. kodok" ujar Agoy sambil melambai ke arah kodok yang terbaring mengenaskan di meja praktek.
"tolong kuburkan aku.. kalian tidak bertanggung jawab!" ujar Alwin memainkan kodok mati sambil menirukan suaranya.
"iih.. apaan sih loe win! serem tau ga" ujar Iras memukul pundak Alwin.
"hohoho.. Iraaasss.. kamu akan ku balas!!" Alwin kembali meledek Iras yang takut melihat kodok mati di tangannya.
"alwiiiinnnn" teriak Iras.
Bobby, Agoy dan Lee hanya tertawa melihatnya.
"udah yuk ahh kita balik.. ruangan ini kan mau di bersihin" ujar Bobby sembari melihat Juwita dan Metta yang memasuki ruangan lab dengan membawa sapu, kain pel dan alat-alat kebersihan lainnya.
"wah.. yang ngebersihin ruangan ini kalian berdua?" tanya Agoy.
"iya nih kak.. tapi kita punya asisten sukarela kok" ujar Juwita.
"siapa?" tanya Agoy, Bobby, Lee, Iras dan Alwin bersamaan.
"tuh.. "tunjuk Metta dan Juwita bersamaan.
Hendra dan Nicky mulai memasuki ruangan lab dengan wajah tak bersemangat.
"kita berdua nunggu di luar aja deh" ujar hendra dengan nada malas.
"enak aja.. kalian harus bantuin kita katanya pacar masa ga mau bantuin sih" ujar Juwita sambil mengomel.
"hahahaha.. kita pergi dulu deh kalo gitu. selamat bersenang senang" ujar Lee sembari meninggalkan ruangan lab bersama teman temannya yang lain.
dengan terpaksa hendra dan nicky menuruti perintah pacar mereka.


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar