Kamis, 09 Februari 2012

Misteri Kematian Teman Sekelasku 8(END)

Seusai sekolah aku dan teman temanku berkumpul di rumah fero. kami mengerjakan tugas bersama dan juga makan siang bersama disana.
"shofie ada telpon nih dari kakak kamu" ujar kak bobby sambil meyodorkan handphone-nya padaku.
"halo kenapa kak?" tanyaku pada kak Lee.
"kamu tuh di telponin dari tadi kenapa ga diangkat angkat?" tanya kak Lee dengan nada sedikit khawatir.
"kayanya dari tadi ga ada yang telpon deh kak" jawabku dengan yakin.
"coba kamu cek dulu sana, pasti kamu ga denger deh"
aku langsung merogoh saku baju dan rok ku tapi handphone-ku tak ada. aku langsung beralih ke tas dan mulai mencari ponselku, ku keluarkan semua isi tasku dan mulai mencarinya lagi namun tetap tak ada.
"emm.. kak bentar ya handphone aku ga ada nih" ujarku sembari mengakhiri telpon kak Lee.
"ketemu fie?" tanya fero kepadaku.
"ga ada nih fer, hp gue mana ya? loe liat ga?"
"mana gue liat"
"nah loh ketinggalan kali fie disekolah" ujar kak bobby kepadaku.
"iya kali ya.. yaudah deh aku balik ke sekolah dulu mudah mudahan masih ada"
aku langsung berlari menuju sekolah tanpa menghiraukan teriakan kak bobby dan teman temanku. bagiku handphone itu sangat berharga karna itu hadiah dari kak Lee saat aku berulang tahun yang ke 16 ketika itu handphone-ku yang lama hilang saat di angkot. waktu itu aku nekat pulang sendiri naik angkot karna aku sedang marahan sama kak Lee dan karna hal itu juga orang orang dirumah khawatir mencariku karna handphone-ku tak bisa di hubungi karna aku meletakannya di dalam angkot dan mungkin tertinggal saat aku turun dari angkot itu.
Aku memasuki kelasku dan mulai meraba raba kolong mejaku dan alhamdulillah handphone-ku masih ada. kulihat ada beberapa panggilan tak terjawab yang tertera di layar ponselku. aku pun segera melangkahkan kakiku keluar kelas dan ku lihat hari sudah mulai agak gelap. aku buru buru berlari menyusuri koridor sekolah namun saat melewati lab biologi aku mendengar suara yang cukup keras seperti suara benda yang terjatuh.
BRUUKK!!
perlahan lahan aku membuka pintu lab kemudian aku melongok dan mulai masuk ke dalam, aku tidak melihat apa apa di dalam sangat gelap aku langsung meraba sakelar lampu dan menyalakannya. aku melihat beberapa kursi yang terjatuh aku pun mendekat dan merapihkan kursi kursi itu ke tempat semula setelah itu kembali beranjak pergi. namun saat aku melewati lemari yang berada didalam lab itu tiba tiba pintu salah satu lemari itu terbuka.
KREEKK..
aku pun mendekatinya saat ingin menutupnya mataku tertuju pada salah satu benda yang terletak paling depan di dalam lemari itu. benda itu mirip seperti sepasang tangan yang di letakan didalam toples. tangan itu seperti asli bagiku aku pun mulai memperhatikannya lebih seksama. ternyata memang benar asli aku langsung tertegun. hanya ada 1 orang yang memiliki kunci kunci lemari yang berada di dalam lab orang itu adalah pak derry.
"bagus ya.." ujar pak derry yang tiba tiba mengagetkanku.
aku langsung menoleh kesamping dan melihat pak derry yang sudah jongkok di sampingku. akupun mulai berdiri.
"bagi orang lain seni itu terletak pada sebuah benda ukir atau lukisan tapi bagi bapak seni itu terletak pada tangan seorang gadis, tangan yang tak terkotori oleh darah dan cacat sedikitpun itulah yang namanya seni" ujarnya sambil tersenyum jahat.
"ja jadi bapak yang membunuh dinda?" tanyaku setengah tak percaya.
"ya, aku yang membunuhnya sebelum aku menjatuhkannya dari jembatan aku memotong tangannya terlebih dahulu" ujarnya dengan wajah tak berdosa.
"kenapa bapak tega melakukan itu?!"
"karna aku suka melihat kembang api manusia"
"kembang api manusia?"
"ya, ketika tubuh seseorang menabrak sebuah kereta api yang sedang melintas akan terlihat keindahan disana, sebuah kembang api manusia yang sangat indah" ujarnya lagi dengan ekspresi yang sangat menakutkan bagiku.
"bapak gila!!"
"kamu pun juga bisa shofie tapi sebelum itu tanganmu harus di potong dahulu" ujarnya sambil mengambil sebilah pisau dari dalam laci.
aku langsung berlari keluar lab dengan wajah ketakutan, ku lihat pak derry mengejarku dari belakang sambil memanggil manggil namaku. aku seperti kehilangan arah aku berlari tak menentu, aku sangat panik dan ketakutan.
***

"loe yakin shofie kesekolah?" tanya Lee begitu khawatir.
"iya tadi dia langsung lari gitu setelah loe telpon kayanya sih ke sekolah" ujar bobby.
"kalo ke sekolah kok sampe sekarang belom balik? mana gue telpon ga diangkat angkat" ujar Lee semakin terlihat panik.
"coba aja kak kita cari kesana" ujar fero menyarankan.
"yaudah gue telpon yang lain juga deh buat bantuin kita, entar gue suruh mereka kesana aja" ujar bobby sambil mengeluarkan ponselnya.
setelah bobby menelpon teman temannya yang lain mereka bertiga langsung bergegas kesekolah untuk mencari shofie.
"loe tenang dong lee" ujar bobby yang melihat lee duduk dengan begitu tidak tenang.
"perasaan gue ga enak bob"
"udah kita berdoa aja semoga shofie ga kenapa napa"
***

sesampainya mereka bertiga di sekolah ternyata yang lain sudah lebih dulu sampai di sana.
"gimana kalian udah nemuin shofie?" tanya lee sembari menutup pintu mobilnya.
"gue sama anak anak udah nyari shofie ke seluruh pelosok sekolah tapi shofie ga ada" ujar Kiki yang mulai khawatir memikirkan shofie "terus gue nemuin ini  di depan pintu masuk sekolah" ujarnya lagi sambil menyerahkan ponsel milik shofie.
"ini pasti ada apa apanya nih lee" ujar Alwin panik.
"aduuh.. mending sekarang kita berpencar deh nyari shofie" usul widie.
"AAaaaaaaaaaaaaaaa" terdengar suara teriakan seseorang.
"itu suaranya Novi" ujar nadya panik.
Lee langsung berlari ke asal suara tersebut dan diikuti oleh yang lain dari belakang.

sesampainya lee di tempat kejadian lee melihat ada seorang pria misterius mengenakan jas hitam yang menutupi wajahnya sedang medekat ke arah Novi. lee langsung berlari dan menghajar pria itu sampai terjatuh.
"kamu gpp?"
"aku gpp, aku cuma kaget aja tiba tiba orang itu nyentuh punggung aku"
"heh!! loe siapa hah!!" sentak lee kepada pria misterius itu.
teman temannya yang baru tiba langsung menghampiri lee dan novi.
saat yang lain ingin menghajar pria tersebut, pria itu langsung berbicara.
"tunggu saya bukan orang jahat" ujarnya sambil melepaskan tudung jasnya.
"kalo loe bukan orang jahat trus loe siapa?" tanya budi yang sedikit meredam emosinya.
"saya koko dianova detektif" ujar pria itu sambil menyodorkan identitasnya. (horee koko muncul)
"eh bener.. dia detektif" ujar juwita yang memegang identitas pria itu.
"apa yang kamu lakukan disini?" tanya lee sedikit tenang.
"sebenarnya sudah beberapa hari ini saya mengintai sekolah ini karna saya mencurigai seseorang yang saya duga adalah seorang pembunuh yang sering membunuh para siswi sejak 2 tahun yang lalu dan saya mengira orang itu juga yang telah membunuh saudari Adinda Pertiwi teman sekolah kalian" ujar detektif koko menjelaskan.
"lalu siapa orang yang anda curigai?" tanya Kiki dengan wajah serius.
"orang ini.." sambil menyodorkan selebar foto "sejak 2 tahun yang lalu saya mencurigai dia tetapi saya tidak mempunyai banyak bukti untuk menahannya" ujar detektif koko.
Lee dan teman temannya terkejut melihat foto yang di tunjukan kepada mereka.
"ini sih pak derry" ujar Agoy
"gila gue ga nyangka ternyata selama ini dia psikopat" ujar Iras.
"kalo memang bener dia.. berarti kemungkinan shofie dalam bahaya. kita harus cepet cepet menemukan shofie" ujar Kiki kembali panik.
"kalau begitu sebaiknya kita berpencar untuk mencarinya" ujar detektif koko menyarankan.
mereka semuapun berpencar untuk mencari shofie.
***

Aku tak sanggup untuk lari lagi tapi kalau tidak lari pak derry pasti membunuhku. aku melihatnya berlari di belakang ku aku berlari melewati jembatan namun sialnya kakiku tersandung batu.
"aww.." pekikku kesakitan.
"kamu mau kemana shofie? disini tidak ada siapa siapa hanya ada kita berdua kamu sudah tidak bisa kemana mana lagi" ujar pak derry sambil menodongkan pisaunya kearahku.
aku sudah tak kuat untuk berdiri kakiku sakit. apa ini akhir dari kehidupanku? dibunuh oleh guru yang sangat ku kagumi selama ini. aku mulai meneteskan air mata tapi aku masih mencoba untuk bertahan. dengan sekuat tenaga aku menyeret tubuhku menghindari pak derry namun ia semakin dekat dan semakin dekat ke arahku.
"selamat tinggal shofie!!" teriaknya sambil mengayunkan pisaunya kearahku.
aku langsung memejamkan mataku. namun aku tak merasakan apa apa, lalu kubuka mataku dan melihat pak derry. ternyata pak derry sedang diserbu oleh beberapa pasang tangan yang terlihat tembus pandang. pak derry tampak kewalahan dan perlahan lahan tangan tangan itu mendorong tubuh pak derry hingga tubuhnya terjatuh dari atas jembatan dan saat itu ada sebuah kereta yang melintas dan menghantam tubuhnya dengan secepat kilat.
pak derrypun tewas menjadi kembang api manusia.
aku menggigil ketakutan, kurasakan butir butir air mata yang menetes dari pelupuk mataku.
"shofie!!" teriak kak lee dan kiki dari ujung jembatan menghampiriku.
aku langsung memeluk tubuh Kiki. kak novi langsung menjerit dan memeluk tubuh kak lee. mereka berdua shok melihat keadaan jasad pak derry yang sudah tercecer dimana mana. begitu juga dengan teman teman yang lain setibanya mereka ditempatku mereka juga langsung shok melihatnya. fero, nadya, lharaz, rahma, widie, juwita dan metta juga berteriak sama sepertiku dan kak novi dan mereka juga memeluk pasangan mereka masing masing.
selama beberapa saat kami semua terdiam.
aku mulai kehabisan tenaga dan tiba tiba kesadaranku menipis samar samar aku melihat dinda tersenyum ke arahku sambil meneteskan air mata.
***

Hari ini seisi sekolah gempar mendengar kabar pak derry yang semalam meninggal. mereka sangat kaget bahkan beberapa orang dari teman teman sekelasku tidak percaya bahwa pak derry adalah orang yang membunuh Dinda dan beberapa siswi dari sekolah lain. menurut kesaksian detektif koko, pak derry dulu adalah teman satu kampusnya dan selama beberapa tahun beliau kuliah disana banyak siswi yang tiba tiba meninggal. di duga siswi siswi itu meninggal karna bunuh diri namun karna merasa ada yang janggal detektif koko mulai menyelidiki kasus ini tepat 2 tahun yang lalu saat ada rekannya yang meninggal dengan cara yang sama.
dahulu saat pak derry masih berumur 8 tahun ia melihat ibunya tewas tertabrak kereta saat ingin menyebrang. pada saat itu ibunya ingin menghampiri beliau di pinggiran rel namun naas ia terpeleset di tengah rel tepat pada saat itu ada kereta yang melintas dan langsung menyambar tubuhnya. tubuh ibunya hancur berantakan dan saat itu tangannya terlempar tepat didepan mata pak derry. mungkin karna sebab itulah pak derry mengalami gangguan jiwa dan membuatnya jadi psikopat yang suka membunuh dan melempar tubuh korbannya ke tengah rel tapi sebelumnya ia memotong tangan gadis itu untuk jadi koleksinya. terbukti beberapa orang polisi menemukan beberapa pasang tangan yang di sembunyikan di dalam apartemen pak derry dan tangan yang ku temukan di lemari lab biologi kemungkinan itu tangan dinda yang belum sempat ia bawa ke apartemennya.
"terima kasih atas kerjasamanya" ujar detektif koko sambil menjabat tangan kami satu persatu "kasus ini akhirnya selesai" ujarnya sambil menghela nafas lega "kalau begitu saya permisi" pamitnya.
kami semua tersenyum padanya dan mengantarnya sampai ke depan gerbang. detektif koko pun menaiki mobilnya dan pergi dari hadapan kami.
"untung kamu gpp dek, kakak khawatir bgt kemarin apalagi pas detektif koko bilang pak derry seorang pembunuh kakak udah mikir macem macem takut kamu kenapa napa" ujar kak lee yang begitu bersyukur melihatku yang masih bernafas.
"kemarin aku sempet putus asa aku berpikir aku akan mati ditangan pak derry" ujarku miris.
"tapi untungnya kamu gpp Fie" ujar Kiki yang langsung memelukku.
aku dan teman temanku bersyukur karna kami tidak sempat menjadi korbannya pak derry.

Beberapa hari kemudian..
Sejak saat itu dinda tak pernah menghantui kami lagi. kami menyimpulkan bahwa dinda saat itu hanya ingin meminta tolong pada kami dan juga memperingati kami tentang pak derry. huruf D yang terukir di fotonya kiki ternyata itu artinya DERRY dinda hanya ingin memberitahu bahwa kami sedang dalam bahaya karna itu ia menghantui kami agar kami tak lupa olehnya dan mencari tahu tentang kematiannya. setelah aku pikir pikir semuanya masuk akal sekarang.
jepit rambut yang di temukan kak Rahma di lab mungkin itu memang punya dinda dan letak jatuhnya mungkin sama saat ia sedang terbunuh malam itu, lalu keran yang tiba tiba mengeluarkan darah itu menandakan bahwa tangan dinda di potong diwastafle ruangan dalam lab biologi. agoy mengatakan bahwa pada saat ia ke kamar mandi di rumahku ia bertemu dengan dinda yang tiba tiba mendekatinya dan membisikan 'lharaz' di telinganya mungkin dinda ingin memberitahu bahwa lharaz sedang dalam bahaya. kami sangat berhutang budi pada dinda karna ia masih sempat menghawatirkan kami yang jelas jelas sudah jahat kepadanya.
kami pun berziarah ke makan dinda dan juga berdoa untuknya, disana juga ada ibunya setelah mengetahui tentang pak derry ibunya sudah mulai sedikit lega karna pembunuh anaknya sudah mati dan lagi dugaan dinda mati bunuh diri di patahkan dengan terbongkarnya kasus pak derry.
Kamipun berpamitan dengan ibunya dinda dan pulang ke rumah masing masing. tapi rencananya aku dan kak lee ingin membuat surprise untuk kepulangan mama dan papa dari amerika. kami ingin mengadakan makan malam dirumah tentu saja bersama pasangan kami masing masing. kami berempat pulang bersama sama, kak lee dan kiki duduk di kursi depan sementara aku dan kak novi duduk di kursi belakang. Namun ada 1 hal yang mengganjal batinku, semenjak kejadian di jembatan malam itu aku jadi bisa melihat sesuatu yang tidak bisa di lihat orang lain. seperti sekarang ini ketika kami berhenti tepat di depan jembatan itu aku melihat beberapa sosok wanita dengan tubuh tak karuan bahkan diantara mereka ada yang kehilangan anggota tubuhnya. mereka semua menatapku penuh arti seakan akan ingin memberitahu sesuatu. mereka semakin mendekat dan mendekat, ku rasakan diriku mulai ketakutan. saat mereka sudah sampai di depan kaca mobilku mereka tertawa meyeringai.
"AAAaaaaaaaaaaaa"
siapapun tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!!



Misteri pun berakhir..
The End ^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar