Kamis, 09 Februari 2012

Misteri Kematian Teman Sekelasku 6

"Novii..." teriak Lee dari ujung koridor.
Novi langsung menengok ke belakang.
"eh Lee.. ada apa?" tanya Novi saat Lee menghampirinya.
"kamu kok belum pulang?" tanya Lee sambil sedikit terengah-engah.
"aku abis dari perpus tadi, oiya aku denger Shofie sakit ya?"
"iya nih aku sama yang lain mau ke rumah. mereka bilang mau ngejenguk Shofie"
"aku boleh ikut ga?"
"boleh bgt. yuk"
Lee dan Novi menghampiri yang lain di ujung tangga.
"weeh.. ada Novi" ujar Agoy.
"kayanya ada yang mau balikan nih" Ledek Iras.
"apaan sih loe Ras" ujar Lee memukul pundak Iras "loe doain aja ya" ujarnya lagi setengah berbisik.
"yee bilang aja loe mau, pake mukul segala lagi" gerutu Iras.

"hai.. sorry lama tadi gue abis dari ruangan mading nyiapin materi buat besok" ujar Lharaz sambil menghampiri yang lain bersama Rahmadhani dan Nadya.
"maaf ya lama" ujar Nadya meminta maaf.
"udah gpp kok kita juga baru selesai dari lab" ujar Bobby yang di sertai anggukan Agoy dan Iras.
"yaudah yuk kita jenguk si Shofie" ujar Rahma mengajak teman temannya.
***

"aduuh.. bersihinnya yang bener donk" ujar Juwita marah marah.
"iya maaf.. lagian kan kita ga biasa ngerjain beginian" ujar hendra sembari menggerutu.
"udah udah jangan ribut, gimana mau cepet selesai kalo begini" ujar metta menengahi.
"yang di sebelah sini udah nih.." ujar nicky "apa lagi yang bisa aku bantu?" tanyanya "udah ga ada kan? yaudah aku balik ya" ujarnya sambil bergegas keluar ruangan.
"eitzzz enak aja.. kamu yang nanya kok kamu sendiri yang jawab sih" ujar metta sambil menarik baju nicky.
"iya iya sayang..." gerutu nicky sambil memonyongkan bibirnya.
hendra dan juwita langsung tertawa melihatnya.
***

Aku dan Kiki yang sedang mengobrol di ruang tamu tiba tiba mendengar suara kendaraan yang terparkir di halaman rumahku. saat kami hampiri ternyata itu Budi, Widie dan fero.
"wah.. kalian kok kesini ga bilang bilang dulu sih?" tanyaku sambil memeluk kedua sahabatku fero dan widie.
"kan biar surprise Fie" jawab widie sambil tersenyum.
"yang lain mana?" tanya Kiki.
"nanti mereka nyusul kok" jawab fero.
"iya soalnya kan mereka tadi ada praktek di sekolah paling bentar lagi sampe" sambung budi.
"yaudah masuk yuk" ajakku kepada ketiga temanku yang baru sampai.
Kami pun mengobrol di ruang tamu. beberapa menit kemudian kak Lee pulang bersama teman teman yang lain.
"Shofie.. cepet sembuh yaa" ujar kak Novi sambil memelukku.
"iya kak ini juga udah baikan kok"
"kantin sepi Fie ga ada loe" ujar Nadya.
"iya gue sama Lharaz juga ga ada yang bantuin di mading" sambung kak Rahmadhani sambil melirik ke arah kak lharaz.
aku sangat senang melihat teman temanku datang dan memberiku perhatian. Kak Iras, Agoy, Alwin, Bobby menyapaku sambil tersenyum sedangkan kak Lee seperti biasa dia hanya mengacak rambutku tapi sambil tersenyum.
kami semua berkumpul di ruang tamu, rasanya penatku di rumah seharian terobati dengan kehadiran mereka. kak Lee dan teman temannya mulai membuat kami tertawa terpingkal pingkal.
"udah ahh perut gue sakit nih ketawa mulu" ujar fero sembari memegangi perutnya.
"kalo kita udah ngumpul begini pasti ada aja deh yang bikin ketawa" sambung widie.
"iya tapi kurang lengkap ya tanpa juwita, metta, hendra dan nicky" ujarku.
"oiya mereka entar kesini kan?" tanya fero yang baru menyadari tentang mereka.
"ga tau tuh sayang.. tadi sih mereka kayanya lagi sibuk ngebersihin lab" ujar Alwin sembari mengatur napasnya.
"haha kasian ya hendra sama nicky di suruh bantuin ngebersihin lab" ujar Agoy sambil ketawa cekikikan.
"oiya btw kalian berdua udah balikan nih?" tanya budi sambil melihat ke arah kak Novi dan kak Lee.
"ahh enggak kok belom" ujar kak Novi salting.
"sebenernya kalian putus gara gara apa sih?" tanyaku penasaran.
kak Novi dan kak Lee hanya saling pandang kemudian kak Novi mulai berbicara.
"sebenernya kita putus karna kesalahan kakak Fie" ujarnya sambil menunduk.
"loh emangnya kakak salah apa?" tanyaku semakin penasaran.
"waktu itu kakak cemburu ngeliat kak Lee berduaan sama dinda trus ngobrolnya kaya yang akrab gitu" ujarnya sambil melirik ke arah kak Lee.
"aku sama dinda ga ada hubungan apa apa, kan aku udah pernah ngejelasin itu sama kamu. aku cuma nolongin dia aja soalnya waktu itu dia di kerjain sama anak anak 1 sekolahan dan aku ga tega ngeliatnya. karna aku ngebayanginnya seandainya Shofie yang berada di posisi itu pasti aku akan marah bgt apa lagi ga ada 1 orang pun yg mau perduli sama tangisan dia waktu itu" ujar kak Lee menjelaskan.
aku langsung menatap kak Lee dengan perasaan bangga, aku tak menyangka kak Lee begitu menyayangiku dan mau perduli sama dinda.
"iya aku minta maaf waktu itu aku juga udah jahat sama dia dan aku menyesal" ujar kak Novi dengan mata berkaca kaca.
"udah kak.. itu kan masa lalu dan lagi cuma salah paham, aku tau kok kalian masih saling mencintai" ujarku sambil menyentuh tangan kak Novi.
kak Novi hanya diam begitu juga dengan kak Lee.
"tapi menurut gue dinda itu suka sama kak Lee" ujar fero secara tiba tiba.
kami semua langsung melirik kearahnya.
"kok kamu bisa ngomong kaya gitu? tau dari mana?" tanya kak bobby.
"waktu itu aku pernah liat dinda lagi merhatiin kak Lee sambil senyum senyum gitu, trus pas aku kagetin dia langsung salting gitu deh"
Alwin langsung teringat dengan perempuan yg dia lihat di lab saat Lee dan Agoy pergi ketoilet.
"emm.. sorry mungkin ini aneh tapi tadi di lab gue ngeliat ada sosok cewek yg ngikutin loe dari belakang Lee" ujar Alwin.
"loe serius? ga salah liat loe win?" tanya kak Lee meragukan cerita Alwin.
"serius.. dan bukan cuma gue aja tapi hendra malah sering ngeliat arwahnya dinda nempel di samping loe" ujar Alwin lagi yang di sertai dengan rasa merinding di tubuh kami.
"ehemm guys.. kayanya obrolan kita udah ga enak deh" ujar Iras yang mulai sedikit ketakutan.
Kak Lee dan yang lain mulai mencairkan suasana yang sempat tegang dengan membicarakan hal lain dan membuat kami tertawa kembali. saat aku berpaling ke ruangan dalam rumahku aku melihat ada bayangan sekelebat yang langsung menghilang ke arah kamar kakakku. tapi aku tak menghiraukan hal itu, mungkin aku hanya salah lihat.
***

"udah nih.. huaaaah akhirnya selesai juga" ujar hendra sembari meregangkan otot tubuhnya.
"sumpah ga mau lagi deh gue begini, capek gila" gerutu nicky sambil meletakkan kain pel dari tangannya.
"makasih ya udah ngebantuin.. kalo ga ada kalian pasti sampe sekarang kita belom selesai deh" ucap juwita.
"iya sayang tapi lain kali jangan pake maksa gitu napa" ujar hendra manja.
"gue mau cuci tangan dulu ahh.. di dalem ada wastafle kan?" tanya nicky.
"ada kok.. tapi lampunya agak gelap gitu yank" ujar metta.
"gpp deh yang penting ga bener bener gelap" ujar nicky sambil berjalan ke ruangan dalam lab biologi.
"gue ikut nic.. bentar ya sayang.." ujar hendra kepada juwita.
hendra dan nicky masuk ke dalam ruangan yang terletak di pojok lab biologi sementara juwita dan metta membereskan alat alat kebersihan yang tadi mereka bawa dan meletakannya di sudut ruangan.
"kok tiba tiba disini dingin ya wi?" tanya metta sambil memegangi tengkuknya.
"iya.. mungkin AC nya kali" jawab juwita asal.
tetapi saat mereka melirik ke arah AC yang berada di ruangan itu ternyata mati.
"hemm.. AC nya mati kok tapi kok dingin ya.. mana merinding pula" ujar juwita.
"kita nyamperin hendra sama nicky aja yuk" ajak metta yang di sertai dengan anggukan setuju juwita.

"kalian mau cuci tangan juga? itu yang di depan udah di beresin?" tanya hendra sambil mencuci tangannya di wastafle.
"emm udah kok" jawab juwita.
"nih.. aku udah selesai" ujar hendra sambil bergeser ke samping.
"loh kok airnya mati?" tanya juwita heran.
nicky langsung mengecek keran wastafle itu.
"iya nih mati.. mungkin mampet kali ya" tebak nicky.
"kita balik aja yuk perasaan gue ga enak nih" ujar metta gelisah.
hendra, juwita dan nickypun menuruti metta dan langung bergegas keluar lab. tapi baru beberapa langkah mereka berjalan tiba tiba keran itu mengeluarkan air padahal tadi saat di periksa oleh nicky keran itu macet tak bisa mengeluarkan air.
"kok tiba tiba kerannya nyala ya?" tanya nicky dengan wajah tak karuan.
"udah yuk ah kita keluar aja dari sini" ujar hendra.
tetapi saat mereka ingin berjalan tiba tiba kaki mereka terasa berat.
"ayo.. kok malah diem disitu sih?" tanya metta heran.
hendra dan nicky hanya saling pandang.
"sayang aku boleh minta tolong?" pinta nicky dengan wajah pucat.
"minta tolong apa?" tanya metta kebingungan.
"tolong liatin dong di kaki kita ada apaan" ujar nicky sambil menelan liurnya.
kaki?" ujar metta dan juwita bersamaan.
metta dan juwita langsung melihat ke arah kaki pasangannya. betapa terkejutnya mereka ketika melihat ada sepotong tangan yang tembus ke lantai sedang mencengkeram kaki pasangan mereka dengan sangat kuat. mereka langsung berteriak dan berusaha menarik hendra dan nicky ke luar lab.
***

"udah jam segini nih gue balik dulu ya" ujar Lharaz sembari bangkit dari sofa.
"aku anterin ya" ujar Agoy.
"ga usah.. aku pulang sendiri aja lagian kan kamu nanti baliknya bareng sama Iras dan Rahma"
"emm yaudah deh kamu hati hati ya sayang" ujar Agoy sambil mencium kening lharaz.
"ciee..." ujar yang lain bersamaan.
kami pun melanjutkan perbincangan kami.
"gue numpang ke kamar mandi dong Lee" ujar Agoy sembari bangkit dari sofa.
"yaudah tuh kamar mandinya ada di ruang tengah di sebelah kiri" ujar kak Lee.
Agoy langsung berlari kedalam dan memasuki toilet yang terletak di ruang tengah rumahku.
"kok gue merinding ya?" gumam Agoy dalam hati sambil mengelus tengkuknya.
ketika Agoy bercermin dia melihat bayangan dari balik tirai bathtub yang tertutup. namun saat ia menghampiri dan membuka tirai tersebut tak ada siapa siapa. Agoy kembali bernapas lega ketika dia berbalik ada sesosok perempuan yang mirip dengan dinda teman sekelasku berdiri di depannya sambil tersenyum. Agoy hanya diam mematung, perlahan lahan dinda mendekat ke arah Agoy. Agoy sama sekali tak berkutik pandangannya tetap tertuju kedepan. tak berapa lama dinda kemudian menghilang.


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar